16 september

Ibu…
wanita yang telah melahirkanku
merawatku
membesarkanku
mendidikku
hingga diriku telah dewasa
Ibu…
wanita yang selalu siaga tatkala aku dalam buaian
tatkala kaki-kakiku belum kuat untuk berdiri
tatkala perutku terasa lapar dan haus
tatkala kuterbangun di waktu pagi, siang dan malam
Ibu…
wanita yang penuh perhatian
bila aku sakit
bila aku terjatuh
bila aku menangis
bila aku kesepian
Ibu…
telah kupandang wajahmu diwaktu tidur
terdapat sinar yang penuh dengan keridhoan
terdapat sinar yang penuh dengan kesabaran
terdapat sinar yang penuh dengan kasih dan sayang
terdapat sinar kelelahan karena aku
Aku yang selalu merepotkanmu
aku yang selalu menyita perhatianmu
aku yang telah menghabiskan air susumu
aku yang selalu menyusahkanmu hingga muncul tangismu
Ibu…
engkau menangis karena aku
engkau sedih karena aku
engkau menderita karena aku
engkau kurus karena aku
engkau korbankan segalanya untuk aku
Ibu…
jasamu tiada terbalas
jasamu tiada terbeli
jasamu tiada akhir
jasamu tiada tara
jasamu terlukis indah di dalam surga
Ibu…
hanya do’a yang bisa kupersembahkan untukmu
karena jasamu
tiada terbalas
Hanya tangisku sebagai saksi
atas rasa cintaku padamu
setiap 16 september..
kukenang kembali putih cintamu
kucium kembali harum kasihmu
ibu..
kini kutahu bagaimana membalas cintamu
kan kurawat cinta, kasih dan sayangku untuk tumbuhkan cucumu
kan kulimpahkan ilmu dan hikmahku untuk lindungi masa depan cucumu
kuhalalkan keringat dan kerja kerasku untuk menafkahi cucumu
dan
kuwaqafkan diriku untuk teruskan perjuanganmu
mengasihi sesama, melindungi semua
sepenuh hati
ibu..
andai engkau tahu
akulah anak perindumu
karena engkau tak terganti..
bahkan oleh nafas dan hidupku
Cinta dan sayang kami hanya untukmu ibu….
Ya Allah, ijinkan kami untuk selalu dapat menjaga dan membaktikan diri untuknya

Sigid – Hendy – Bowo – Ari

( Ghaisan – Ghaida – Raiska – Rasya )