Pagi tadi dalam perjalanan di kantor, laju motor terhambat oleh truk bermuatan tanah.  Karena muatannya melebihi bak nya maka beberapa kali butiran-butiran tanah itu berjatuhan. Beberapa kendaraan yang berada di samping dan belakangnya tampak justru mencoba menghindari jatuhan butiran tanah itu. Beberapa yang lain justru sibuk membunyikan klakson. Tak sedikit malah yang nyaris saling bersenggolan, padahal di belakang ada puluhan kendaraan yang melaju sedang di sebelah truk tadi masih ada jalan untuk mendahului

Hikmah yang saya bisa petik dari kejadian tadi adalah fokus. Kalau kita fokus pada truk bermuatan tanah maka bisa jadi kita jatuh tersungkur, namun jika kita fokus pada jalan di depan yang masih panjang, maka naluri akan memberi tahu ada jalan yang bisa dilalui. Pun begitu pula dalam dinamika kehidupan ini. Masalah selalu muncul setiap saat, baik yang sudah di duga maupun yang tidak terduga.

Jika menghadapi masalah hanya dengan sibuk mengeluh, mencaci, memaki, maka pada saatnya justru kita akan jatuh. Kata guru ku, mulut manusia bagai moncong teko jika hati manusia diibaratkan isi teko. moncong teko hanya mengeluarkan apa isi teko, pun pula demikian, mulut manusia hanya mengatakan sesuai dengan kondisi hatinya. jika hatinya bersih maka kata-kata, ucapan yang keluar dari mulutnya juga pasti kata-kata dan ucapan yang baik, sepelik apapun masalah yang dihadapi.

Seballiknya jika dalam seberat apapun masalah kita tetap fokus ke depan, fokus pada solusi, maka pasti pada saatnya jalan keluar dari masalah pasti akan ditemui. Tidak perlu galau, tidak perlu cemas karena Allah menyediakan kemudahan bersamaan dengan datangnya kesulitan.

Allah berfirman dalam Al Qur’an Surat Ath Tholaq ayat 2 dan 3 yang artinya kurang lebih :”Barangsiapa yang ber-Taqwa kepada Allah, tentu diberi jalan keluar baginya, dan diberi Rejeki dari pintu yang tak diduga2. Barangsiapa yang ber-Tawakkal kepada Allah, maka akan dicukupkan kebutuhannya“. So, apa lagi yang hendak diragukan dari janji Allah ?? Namun, barangkali yang perlu diperhatikan adalah bahwa janji Allah itu hanya diperuntukkan bagi mereka yang bertaqwa, bukan hanya mereka yang mengaku dirinya islam, dan bukan yang hanya mengaku beriman. Bagi yang ramadhan kemarin telah menyelesaikan puasanya dan berhasil meraih predikat taqwa, maka boleh jadi masalah yang dihadapi merupakan jalan keluar, bisa jadi masalah yang datang adalah rejeki yang tidak terduga ??? Prinsipnya, selama kita hanya berfokus pada masalah, maka masalah akan terus menjadi masalah dan akan menambah masalah, namun jika kita fokus pada solusi dan jalan keluar, pasti itu yang akan ada di hadapan kita

Dalam sebuah hadits Qudsi Allah berfirman Dalam hadith Qudsi, Allah berfirman, “Siapa yang tidak redha dengan hukum Aku, siapa tidak sabar dengan bala Aku, siapa yang tidak syukur akan nikmat Aku, sila keluar dari bawah langitKu dan cari tuhan yang lain daripada Aku”.. Hadits Qudsi tersebut sudah sangat tegas dan jelas memberi ancaman bagi siapapun yang tidak ridho dengan taqdir Allah yang telah terjadi.

5 jurus menghadapi masalah versi guru ku

1.  Siap menerima suatu cobaan

Kita terkadang lupa bahwa pangkal dari masalah kita bukan masalah itu sendiri, tetapibagaimana menyikapi/menerima suatu cobaan. Seperti menghadapi suatu ujian. Apabila kita mempersiapkan diri kita sebaik-baiknya, maka umumnya kita akan mendapatkan hasil yang baik pula. Tetapi kita juga harus ingat bahwa tidak semua yang kita inginkan akan terwujud. Oleh karena itu, kita harus siap pula dengan kegagalan dan jangan hanya siap dengan kesuksesan. Semakin siap kita untuk menghadapi suatu kegagalan, semakin ringan masalah tersebut akan dirasakan oleh kita. Mulailah dengan niat yang baik, ikhtiar semampu kita, tapi jangan terkunci oleh keinginan dan nafsu kita, serahkan semuanya kepada Allah SWT.

2.       Kalau sudah terjadi, kuncinya adalah ridho/diterima

Seringkali saat mengalami suatu masalah/musibah, kita cenderung berpikir “seandainya saya pergi lebih cepat”, “seandainya kita belajar lebih giat”, dsb. Hal itu menandakan bahwa kita adalah orang yang tidak bisa menerima kenyataan. Hal ini dapat menimbulkan perasaan tidak tenang dalam menghadapi berbagai cobaan serta masalah hidup. Apabila kita mencoba berpikir lebih dalam, banyak orang menderita bukan karena kenyataan yang terjadi tetapi karena tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Oleh karena itu, apabila kita sudah siap untuk menerima berbagai cobaan dari awal dan bukan di akhir, InsyaAllah kita akan menjadi lebih tenang dan lebih siap dalam menghadapi berbagai ujian dalam hidu kita.

3.       Jangan mempersulit diri,  “mudahkan urusanmu”

Apabila kita pikirkan baik-baik. Setiap kita mendapatkan masalah, pada umumnya kita menderita karena pikiran kita sendiri. Banyak orang menderita karena memikirkan yang belum ada dan bukan mensyukuri yang sudah ada. Orang tersebut bukan kurang rizki tetapi kurang iman. Kita jangan takut tidak akan mempunyai rizki yang cukup, tapi takut tidak bisa mensyukuri nikmat yang sudah kita miliki!  Kita harus ingat bahwa kita dihormati orang lain  bukan karena kita mulia, tapi karena Allah SWT menutupi dosa, aib, dan kesalahan kita!

Terdapat beberapa babak dalam hidupnya: babak ngetop, babak belur, hingga babak baru. Beliau juga berkata bahwa pujian jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan dicaci maki. Karena pujian mendekatkan kita ke kemunafikan.  Namun, dari hal tersebut beliau menyadari bahwa memang terkadang inilah ujian yang diberikan oleh Allah SWT terhadap hambaNya untuk menaikkan derajatnya. Jangan membebani diri kita dengan berbagai masalah yang sudah ada.

4.       Evaluasi diri (bertaubat)

“Apa saja ni’mat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.”

QS An-Nisa ayat 79

Terkadang kita lalai dalam mengevaluasi diri kita setelah tertimpa masalah/musibah. Kita cenderung mengedepankan emosi serta mencari-cari kesalahan orang lain. Kita harus ingat bahwa sebagai manusia, kita tidak pernah luput dari dosa. Cara untuk menghilangkan/megurangi dosa tersebut tentu dengan bertaubat.

Dalam menghadapi berbagai masalah pun kita harus ingat bahwa tidak ada satupun masalah yang tidak ada solusinya. Tidak ada guru yang memberikan soal tanpa ada kunci jawaban. Tidak ada seseorang membuat lubang kunci tanpa pasangan kuncinya. Salah satu jalan utama untuk mendapatkan jawaban dari masalah kita adalah dengan bertaubat! Pada intinya adalah kita harus instropeksi terhadap kesalahan diri kita sendiri dan jangan melihat/mencari kesalahan orang lain. Seperti kisah Nabi Adam a.s. yang memakan buah terlarang dan akhirnya dikirim ke dunia sebagai hukuman. Beliau menjadi mulia karena bertaubat dan bukan karena menyalahkan iblis yang telah membujuknya. Begitu juga dengan Nabi Yunus a.s. yang dimakan oleh ikan paus karena sempat lalai terhadap umatnya. Beliau pun selamat karena bertaubat.

5.       Cukuplah Allah SWT sebagai penolong kita (hanya bersandar kepada Allah SWT)

  1. Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
  2. dari kejahatan makhluk-Nya,
  3. dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
  4. dan dari kejahatan wanita-wanita tukangsihir yang menghembus pada buhul-buhul,
  5. dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki”

QS Al Falaq 1-5

Seringkali sebagai manusia, kita bersandar kepada jabatan, kekayaan, suami, istri, orangtua, saudara/kerabat dengan jabatan tinggi, dsb. Namun satu hal yang tidak kita sadari adalah kita sering bergantung kepada sesuatu yang tidak kekal. Kaya bisa menjadi miskin, kerabat bisa meninggal atau hubungan bisa menjadi renggang dan jabatan seseorang bisa hilang sewaktu-waktu. Begitu semua hal tersebut diambil/hilang kita akan kehilangan tempat bergantung. Namun apabila kita bersandar kepada Allah SWT yang kekal,  kita tidak akan kehilangan apa-apa karena kita bersandar kepada yang kekal dan pemilik alam semesta. Hal ini pun tercermin dari cara Nabi Muhammad SAW mengajarkan agama islam. Rasulullah menyebarkan agama islam dengan mengajarkan ilmu tauhid terlebih dahulu, yaitu ilmu mengenal Allah SWT. Baru setelah itu Rasulullah mengajarkan mengenai solat dan ibadah-ibadah lainnya. Dari hal ini kita bisa melihat bahwa yang terpenting adalah mengenal Allah SWT terlebih dahulu.

Derajat seseorang ditentukan pula oleh masalah yang dialaminya. Semakin tinggi derajat/mulia seseorang semakin berat pula masalah yang akan dihadapinya. Yang menentukan apakah kita akan menjadi lebih mulia atau tidak adalah bagaimana kita menyikapi dan mengevaluasi diri sesudahnya. Semoga Allah SWT selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada hamba-hambaNya dalam menghadapi&menyikapi berbagai masalah yang  kita hadapi