Kegiatan di beberapa instansi setiap hari jum’at pagi adalah senam. Praktis para pegawai pun menyiapkan diri dengan mengenakan seragam olah raga lengkap (kaos, celana training, dan sepatu kets). Dan senam pun berlangsung antara 30 – 45 menit.
Intensitas pekerjaan di kantor terkadang memaksa pegawai tidak bisa pulang sesuai jadwal (jam 10.30) dan itu berarti mereka harus akan menunaukan sholat jum’at di masjid sekitar kantor.
Ironisnya, sebagian besar mereka masih mengenakan seragam olah raga untuk berjamaah jum’at. Ironis, karena ibadah sholat jum’at yang merupakan ritual sekali dalam sepekan justru dihadiri dengan pakaian olah raga yang beraroma keringat. Hal ini sangat kontradiktif jika disandingkan dengan tetangga kita yang setiap ahad pagi dengan pakaian rapi dan aroma wangi berjalan tegak menuju tempat peribadatannya.

Adab menemui sang Maha Pencipta yang mengkaruniakan aneka rupa nikmat dan anugerah mungkin menjadi suatu hal yang sangat relatif. Namun jika ada yang rela “keroyo-royo” mengenakan seragam olah raga untuk sekedar senam, lantas apa repotnya menyiapkan ganti sepasang baju yang masih rukup rapi untuk berjamaah jum’at sebagai wujud syukur atas semua limpahan anugerah karunia yang diterima selama sepekan.

Andaikan dalam sepekan jantung kita dihentikan berdetak selama 1 jam atau mata tidak bisa berkedip selama 60 menit, atau darah dibekukan dalam beberapa detik, apa yang kita bisa lakukan