Membaca komentar dari pak Wawan dan tulisan di blognya, saya jadi terinspirasi untuk membuat tulisan ini.

UN SMA sudah berlalu dengan sejumlah pertanyaan besar, sudahkah UN tahun ini berlangsung sesuai dengan yang dikehendaki?? Lihat saja kasus besar di beberapa daerah dimana guru melakukan kecurangan dengan membetulkan jawaban siswa. Menurut hemat saya, peristiwa yang diekspose media massa itu hanyalah fenomena gunung es. Yang nampak di permukaan sangat kecil, walaupun sebanarnya yang tersembunyi di dalam air laut sangat besar, bahkan JAUH lebih besar dibanding puncaknya.

Apa yang disampaikan pak wawan di webnya saya yakin juga terjadi di banyak sekolah di berbagai daerah (saya ga bilang semua lho ya), dengan motivasi menjaga gengsi. Sekolah (dalam hal ini Kepala Sekolah) sangat berkepentingan dengan prestasi “kelulusan” siswa. Dinas Pendidikan pun juga. Bupati / kepala daerah pun juga. Mungkin mereka malu kalo sampai yang angka ketidaklulusannya besar. Malu kalo rangkingnya turun, dan sejumlah kemaluan lain.

Meminjam istilah dari pak Wawan, kalo pendidikan ada campur tangan politik……. ngak bisa dipikir secara logika ) pasti pakai—-> banyak jalan menuju ke ROMA. Tak beda jardiknas, tak jauh UN. Pendidikan kita memang belum benar-benar independen (dan susah untuk independen), masih ada kepentingan politis disana, masih ada kepentingan birokrat disana. Kepentingan mereka terkadang sangat jauh diatas aspek moral pendidikan kita.

3 tahun kita mengajar dan mendidik, namun justru diakhiri dengan 3 hari mengajari ketidakjujuran, memutar segala logika berfikir sehat. Yang nampak hanyalah kata LULUS. Menurut saya, disinilah profesioanlitas kita sebagai guru benar-benar akan diuji. Logika sederhana saja, jika setiap SK dan KD sudah dituntaskan oleh siswa, mengapa UN menjadi momok??

Maaf, jika ada yang tidak berkenan. Semua ini hanya berdasar pemikiran pribadi berdasar literatur media