Ada yang menarik ketika film ini dirilis oleh seorang politisi Belanda. Berbagai kalangan di berbagai belahan dunia pun bersuara, termasuk perdana menteri Belanda yang dengan lugas menyatakan bahwa film itu tidak menunjukkan sikap pemerintah dan rakyat Belanda terhadap Islam. Tak kalah seru, sekjen PBB pun mengecam film tersebut.

Tak ingin kalah, mulai dari presiden, ketua DPR, ketua MPR, ketua ormas sampai FPI bersuara sama, mengecam film Fitna.

Google, sebagai salah satu mesin pencari terkemukan di dunia melansir bahwa sebagian besar pencari film FITNA di Internet justru di Indonesia, lho….. kok…….

Betul, Fitna adalah film yang mendeskreditkan Umat Islam. Benar, Fitna adalah film yang menistakan al Qur’an. Tapi apakah pikiran dan sikap kita hanya habis untuk gantian menghujat ?? (apa bedanya??) Bagi yang punya hobby demo, silahkan, dan memang ga salah. Tapi apa bedanya kalau demo besar-besaran menentang film Fitna tapi sholat terlupakan, hijab dengan bukan muhrim tak diindahkan, apalagi tutur kata ucapannya berisi umpatan dan caci maki.

Apa bedanya film Fitna dengan perilaku umat Islam yang mengaku muslim tapi sholat aja cuma setaun 2 kali. Puasa juga cuma 1 ramadhan doank. Ibadah haji ditunaikan tetapi korupsi jalan terus. Lantas, kalau mau jujur, siapa yang sebenarnya menistakan Islam? Siapa yang menginjak-injak (ajaran) al Qur’an? Siapa??

Pernah gak sich kita berfikir bahwa kita lebih sering menyakiti saudara kita sendiri (muslim) dengan pemikiran, sikap, dan perilaku kita. Kita dan media kita lebih sering menggiring opini dan pemikiran kita untuk membenci saudara kita sendiri.

Contoh sederhana, gelombang protes film fitna hanya muncul di berita-berita yang jarang ditonton. Agresi Israel atas Palestina juga demikian. Padahal kejahatan mereka adalah kejahatan kemanusiaan yang sangat biadab. Tapi apa sikap kita?? Apakah kita pernah berfikir untuk untuk memboikot produk Belanda? Israel? Amerika?? Pernah ga??

Tapi apa yang terjadi ketika ada seorang muslim yang memiliki kesanggupan berpoligami?? Bukankah tidak ada satupun ayat al Qur’an yang dilanggar. DAn tidak ada seorangpun manusia yang dirugikan. Tapi apa respon kita dan media kita. Media kita memojokkan, mencemooh, menghujat, mencaci seolah-olah apa yang dia lakukan adalah sebuah dosa besar. Dan kita yang tidak ada kaitannya juga ikut terprovokasi.

Ini saatnya kita sebagai umat Islam berlatih berfikir dewasa. Menempatkan masalah pada proporsinya, dan mensikapi masalah tanpa harus menimbulkan masalah baru.