Siang itu aku masih duduk bersandar dinding di Masjid UMS ketika kulihat handphone ku bergetar. Kulihat dari Kak Kom. Sejurus, aku rgu untuk menerima telephone itu. Namun kemudian kuterima juga. “Jare mas Nanto ora ono……..”

Seketika itu tanganku bergetar, kaget bukan kepalang, Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Kita memang milik Allah, dan kepadanya kita pasti kembali.

Dan malam ini aku baru bisa takziyah ke rumah mendiang mas Nanto. Ada cerita haru biru menjelang kepergianny senin itu. Kepergian yang tanpa diduga, tanp disangka, dan tanpa tertunda. Pagi itu saat jam istirahat SD, beliau beliau pamit ke rumah orang tuanya yang jaraknya hanya 100 meter dari SD tempat mengajar. Sesampai di tujuan, beliau langsung ke kamar mandi untuk buang air kecil. Lama tidak keluar, akhirnya pintu dibuka paksa, dan…..  beliaua sudah meninggalkan dunia.

Tidak ada sakit sebelumnya, sehat wal afiat, pagi itu beliau masih mengajar seperti biasa, dan tak lama beliau harus pulang ke pangkuanNYA.

Tak hanya saya, semua orang kaget, seolh tak percaya. Namun bagaimanapun itulh maut. KeputusanNYA adalah misteri yang hanya Allah saja yang tau. Kita tidak pernah tau kapan malaikat maut akan datang menjemput kita. Kita tidak pernah tau kapan hidup ini akan berakhir. Kita hanya bisa menjaga diri kita agar setiap gerak langkah kita selalu berada di jalanNYA, setiap waktu kita selalu mengingatNYA, dan setiap amal senantia berharap ridhoNYA

Selamat jalan Mas Nanto, semoga amal ibadahmu mendapat balasan yang berlipat dari Allah, dan semoga Allah yang Maha Pengampun berkenan mengampuni segala dosa dan salahmu.

Selamat jalan sahabatku, kelak kita semua pasti menyusulmu……