Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

 

Saudaraku, semoga kita terus menerus bersemangat untuk memiliki kearifan. Karena sangat banyak orang menjadi tua karena bertambah usia tapi tidak  semakin dewasa. Kita tidak akan bisa menahan laju pertambahan umur kita, karena umur adalah milik Allah. Yang harus kita lakukan adalah menahan akhlaq kita agar jangan sampai turun ke derajat yang lebih rendah, tapi justru kita harus menggantinya dengan kualitas pribadi yang semakin mulia.

Lalu bagaimana caranya untuk membangun kebersamaan dengan orang lain itu? berikut ini akan kita kupas suatu langkah yang kita namakan dengan konsep 5 (lima) M;

M yang pertama adalah Mengenal Orang Lain.

Kita harus berupaya untuk mengenal orang lain lebih jauh dan lebih dalam dan hal-hal yang proporsional bisa kita kenali. Karena ada pepatah “Tak  kenal maka tak sayang.” Oleh karena itu semakin kita mengenal, Insya Allah akan tumbuh kasih sayang di hati kita. Tapi sebalikanya  jika kita tidak mengenal, maka akan sulit menumbuhkan perasaan tersebut. Padahal dengan menyayangi orang lain maka akan mendorong kita berbuat lebih baik. Bukankah orang tua yang sayang kepada anaknya akan memberikan pengorbanan yang lebih banyak dibandingkan pengorbanan kepada orang yang tidak mereka sayangi? Oleh karena itu Mengenal orang lain Ini merupakan langkah awal agar kita bisa menikmati kebersamaan dengan orang lain.

M yang kedua adalah Memahami.

Kenapa harus memahami? karena kita akan sulit sekali untuk dipahami orang lain sebelum kita memahami duduk perkara. Kita harus pandai memahami latar belakang seseorang, karena semakin kita memahami maka Insya Allah akan memiliki ketenangan dan kesabaran dalam menyikapi perbuatan orang lain.  Seperti memahami karakter bayi yang menangis misalnya. Tentunya, kita  tidak akan terpancing untuk bertindak emosional kepada mereka jika kita paham bahwa memang menangis itu adalah karakter bayi. Satu hal yang perlu kita catat; “Keuntungan jika kita lebih memahami dengan baik maka manfaatnya adalah kita pun akan mudah dipahami”.

M yang ketiga adalah Memaklumi.

Apa bedanya memahami dengan memaklumi?  memahami itu adalah proses aktif yang lebih ringan, tetapi memaklumi itu adalah sudah menjadi sebuah proses yang lebih tinggi lagi dimana  orang tersebut bertindak belum sesuai dengan harapan kita. Kita harus memaklumi bahwa setiap orang tentu ingin lebih baik, ingin mulia dan bahagia. Tapi tidak semua orang mendapatkan jalannya dengan mudah. Oleh karena semuanya membutuhkan proses untuk lebih baik. Kita harus memaklumi jikalau orang jatuh bangun untuk menjadi lebih baik. Dengan Memaklumi Insya Allah akan membuat kita jauh lebih ringan dalam menyikapi hal-hal yang mengecewakan dari orang lain.

M yang keempat adalah Mengalah Untuk Kebaikan.

Saudaraku, kita harus memiliki kepandaian untuk mengalah kepada saudara kita sepanjang mengalah itu akan menjadi lebih baik.  Pahamilah dengan mengalah bukan berarti kalah, dengan  mengalah bukan berarti lemah bahkan sebaliknya. Mengalah untuk kebaikan bersama adalah sebuah kemenangan atas keserakahan diri, kemenangan atas egois, ketamakan.  karena biasanya kita cenderung ingin mendahulukan milik kita.

Lalu M yang kelima atau yang terakhir adalah Memaafkan.

Kadang-kadang sering terjadi ada orang yang sudah mengalah tetapi tetap belum bisa berterima kasih. Jika mengahdapi orang seperti itu alangkah lebih baik jika kita memberikan maaf. Insya Allah dengan semakin banyak kita memaafkan orang lain maka akan ringan hidup ini. Tetapi sebaliknya jika kita semakin banyak kecewa, dongkol atau dendam kesumat kepada orang lain maka akan semakin berat menghadapi hidup ini. Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang pemaaf sepanjang pribadinya, tetapi Nabi Muhammad  akan tegas terhadap soal agama dan hak Allah. Oleh karena itu kita jangan sampai terpancing menggunakan waktu dan pikiran kita hanya karena semata-mata mengganggap membela harga diri, padahal sebetulnya saat itu tidak akan jatuh harga diri kita. Jangan sampai terbakar emosi kita karena perkara-perkara sederhana yang sebetulnya dengan memaafkan akan membuat urusan menjadi lebih ringan.

Sauadaraku, Belajar mengenal dengan seksama, memahami, memaklumi, mengalah untuk kebaikan dan memaafkan orang lain ini adalah suatu langkah yang Insya Allah akan membuat kebersamaan bagi kita sehingga mudah-mudahan akan menjadi kebaikan. Dan mohon dicatat sikap mengalah atau memaafkan itu bukan tindakan pasif yang akan membuat kita menjadi semakin tersisih tidak berdaya. tapi ini adalah sebuah upaya untuk kebaikan. Wallahu’alam.