Buku ini bercerita tentang kisah sekelompok anak-anak yang terdiri atas 10 orang dan menamai diri mereka dengan laskar pelangi, tinggal di Belitung sana, dengan segala kesulitan kehidupan yang tidak sedikitpun mengurangi mimpi mereka untuk melepaskan diri dari penyakit kronis bernama kemiskinan, dan keinginan besar itu di representasikan dengan keinginan yang luar biasa mewah dimata mereka. Dan kemewahan tersebut bernama pendidikan.

Buku ini ku tamatkan sama dengan aku menamatkan novel John Grisham. Hanya saja, ada chemichal yang berbeda. Jika membaca John Grisham, seperti novel-novelnya yang sebelumnya aku tak bisa menghentikan karena cerita yang mengalir dan mengutik rasa keingintahuan yang sangat kuat, buku laskar pelangi tidak seperti itu. Buku ini membuatku menangis, tertawa, terpukul, tersentuh, terkenang, tercenung, terinspirasi, membangkitkan semangat, memperkuat akar mimpi yang telah ku tanam, membakar semangat nasionalisme dan keinginan untuk ikut menjadi bagian dari komponen bangsa ini yang ikut membangun.

Andrea Hirata, sang penulis buku ini benar-benar mampu menyampaikan pesan nya dengan baik. Ceritanya mengalir. Tak terkesan dia memberikan pesan-pesan moral yang luar biasa, tapi membacanya sudah cukup untuk membuatku terhentak berkali kali.

Kecintaannya atas masa kecil dan tanah kelahirannya benar-benar ter-representasikan dalam metafora-metafora yang hiperbol tapi tidak mengganggu sedikitpun, dan justru menimbulkan keingintahuan pembaca tentang Belitung.

Cara-caranya mendeskripsikan paradox dan drama kehidupan di belitung jaman itu seakan mampu tergambarkan secara visual di dunia imajinasi kita. Satire tentang jurang perbedaan si kaya dan si miskin, kesulitan untuk mendapatkan pendidikan, keinginan besar dari orang tua yang miskin agar anaknya tidak lagi hidup seperti dirinya sendiri, dan semangat polos anak kecil yang memiliki keingintahuan yang luar biasa akan dunia diluar sana.terdramatisir memang. Tapi sekali lagi, hal itu sama sekali tidak mengganggu ku sedikitpun.

Hirata bahkan benar-benar bisa membuatku terbawa dan hanyut, seakan aku ada dalam peristiwa-peristiwa yang ia ceritakan dibuku itu.

Buku ini membuatku terbawa untuk melakukan penelusuran tentang hidupku sendiri, masa kecil, remaja, sampai sekarang ini mendamparkan diri di ibu kota dan masih mengejar mimpi.

Cerita tentang masa kecilnya itu membawaku pada slide-slide masa kecilku sendiri. Bermain seluncuran pelepah mengingatkanku dengan mainan kalahar (mirip skate board dengan roda besi yang tersambung dengan kayu kecil yang dikontrol melalui kaki), meluncur di turunan aspal kebun binatang yang curam. Lucu, polos, khas dunia masa kecil kita. Aku tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu

Cerita tentang lintang, yang meski menempuh puluhan kilo hanya untuk keinginannya sekolah, tidak pernah bolos, meski tak sama, mem-flash back masa kecilku, bersama ibunda tercinta, bangun jam 3 subuh, membuat pisang goreng dan bubur kacang ijo, berkeliling mengantarkannya ke beberapa sekolah sebelum aku sendiri berangkat kesekolah. Cerita lintang membuatku merinding dan menangis.

Ketika dia bercerita tentang Mahar, yang berfikir keras untuk merancang skenario besar untuk parade 17 agustusan yang membalik pandangan banyak orang terhadap sekolah mereka yang kumuh dan tanpa prestasi,dan kisah cerdas cermat yang membawa sekolah mereka menjadi diperhitungkan sekolah-sekolah penggede disana, membawaku pada episode yang sama, zaman-zaman olimpiade matematika dulu, lomba-lomba pramuka, PMR, dan berbagai aktifitas jaman SD, SMP dan SMA dulu demi mengangkat harga diri sekolahku yang sering dihajar sekolah swasta di kampungku. Rasa bangga itu tiba-tiba hadir.

Aku juga bisa bisa merasakan kisah cintanya dengan A ling. Khas remaja yang tengah jatuh cinta. Jika si ikal kenal A ling selama 5 tahun, mencinta, dan ditinggal, jadi ingat cinta pertama dulu, yang butuh 4 tahun hanya untuk menyatakan cinta. Ketika ikal ”mengakali” teman temannya untuk naik gunung, padahal dia hanya ingin mengambil bunga liar di puncak gunung belitung sana, ingatanku membawa hal yang sama ketika aku, daniel, andike dan hendra ke puncak gunung merapi, dan aku menghilang sebentar, hampir mati ketika memanjat tebing di puncak gunung merapi setinggi 7 meter, tanpa alat, demi sejuput adelweiss berwarna ungu yang sangat indah, untuk cinta pertamaku. Ahhh… cinta jaman sekolah itu benar-benar konyol dan indah.

Cerita ikal tentang keinginannya untuk menjadi pemain bulu tangkis atau penulis, atau apa saja asal bukan jadi tukang pos, namun ternyata dia malah menjadi tukang pos itu sendiri, pertikaiannya dengan Tuhan atas nasibnya, mengingatkanku pada kekurang-ajaranku pada Tuhanku, karena kuanggap sering mempermainkan nasibku. Mengingatkanku pada protes lama ku pada Tuhan, bahwa Tuhan selalu memenuhi keinginan-keinginanku, tapi tidak pernah mau memenuhi keinginan terbesarku

Lho, kok jadi curhat?

Buku ini juga membuatku menjadi kembali bersemangat dalam mengejar mimpi. Ya, buatku buku ini adalah tentang mimpi. Nothing is impossible if we want to. And God will be there to say ”yes” to our dreams.

Andai ada hal yang mengganggu ku paling banyak banyaknya istilah-istilah latin, dan beberapa kosa kata yang tak ku mengerti. Tapi anggap saja itu lebih karena keterbatasan pengetahuanku yang dari dulu memang males banget sama yang namanya istilah-istilah. Toh secara filosofis, aku mengerti tentang apa yang diceritakan. Dan setiap istilah aneh dijelaskan dalam glosary di halaman belakang.

Intinya, buku ini MUST BE READ.

Buku ini sangat baik untuk dibaca anak-anak yang mimpinya hampir musnah karena alasan-alasan klasik seperti kemiskinan. Juga bagi mereka-mereka yang beruntung mendapatkan pendidikan dan penghidupan yang layak, namun sering menyia-nyiakannya.

Penting dibaca orang-orang yang tengah putus asa dalam meraih mimpi dan cita-cita. Bahwa cita-cita itu wajib untuk diraih, dan izinkan Tuhan menjalankan keajaibannya.

Buku ini wajib dibaca pejabat-pejabat dan pemimpin-pemimpin dibangsa ini, yang sudah mengeksplorasi kekayaan alam Indonesia seperti yang dilakukan PT Timah di belitung, tapi tidak mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat sekitarnya.

Terutama pejabat-pejabat yang diamanahi untuk mengurusi pendidikan bangsa ini, untuk lebih sensitive terhadap kondisi pendidikan di bangsa ini. Diknas seharusnya memberikan penghargaan dan apresiasi setinggi-tingginya untuk Ibu Muslimah, guru laskar pelangi di belitung, dan ibu muslimah lainnya di seluruh pelosok negeri ini, yang aku yakin masih ada ditengah bangsa yang semakin hedon ini.

Bagi aku sendiri…

Aku ingin sepintar Lintang, dan secerdas Mahar,

Aku ingin memiliki keinginan yang kuat seperti lintang yang rela bersepeda dengan sepeda bututnya 80 km dan melewati sarang guaya hanya untuk datang ke sekolah, dan Harun yang meski memiliki keterbelakangan mental Namur tetap bersekolah

Aku ingin seperti seperti Mahar dan Flo yang memiliki fantasi liar

Aku ingin memiliki keteguhan hati dan mimpi seperti Ikal

Aku ingin memiliki persahabatan seperti halnya laskar pelangi, seperti yang dilakukan A Kiong terhadap Samson

Aku ingin berkelana berkeliling dunia seperti Ikal dan Arai

Aku ingin memiliki keteguhan, ketulusan, dan kesederhanaan serta kemuliaan sebagaimana yang dimiliki Ibu Muslimah Hafsari dan Bapak Harfan Efendy Noor, yang membagi ilmu tanpa pamrih

Tapi aku tak ingin bernasib seperti lintang yang jadi supir truk, dan samson yang jadi tukang angkat barang, atau Trapani yang atas kecintaan yang luar biasa terhadap ibunya, berada di Rumah Sakit Jiwa